Ahli Percaya Hal Ini Jadi Pola Ferdy Sambo Habisi Brigadir J

Ahli Percaya Hal Ini Jadi Pola Ferdy Sambo Habisi Brigadir J

Bekas Hakim Agung Gayus Lumbuun menjelaskan, pola dibalik pembunuhan pada Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) tidak perlu disingkap dalam persidangan karena bisa ditegaskan didasari oleh sakit hati dari aktor atau perencana.

“Dalam teorinya, semua pembunuhan merencanakan tentu didasari atau didasari karena sakit hati, tidak suka, atau geram. Itu sudah tentu. Nyaris semuanya ya . Maka tak perlu ditunjukkan kembali polanya,” kata Gayus.

Menurut Gayus, meskipun pola itu tidak jadi fokus utama untuk disingkap, karena itu beskal penuntut umum memiliki senjata lain yaitu dengan menunjukkan tindakan rencana atau penyiapan sama seperti yang tertera dalam surat tuduhan mereka ke beberapa terdakwa.

Tersangka Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi yang disebut pasangan suami istri dalam nota berkeberatan (eksepsi) mereka mengatakan, surat tuduhan beskal tidak memvisualisasikan secara utuh sangkaan kejadian yang mendasari pembunuhan pada Yosua.

Ferdy Sambo dalam eksepsi berkeras mengatakan Yosua berbuat tidak etis istrinya di dalam rumah individu mereka di Magelang, Jawa tengah, pada 7 Juli 2022.

Satu hari selanjutnya Yosua kembali lagi ke Jakarta bersama kelompok, dan ia dihabisi di dalam rumah dinas Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, di sore hari sekitaran jam 17.17 WIB.

Berkaitan sangkaan penghinaan yang belum bisa dibuktikan itu, kata Gayus, beskal penuntut umum tidak memiliki kewajiban untuk menunjukkan hal tersebut dalam persidangan.

Gayus menjelaskan, JPU bisa juga berusaha menunjukkan proses rencana pembunuhan pada Yosua dan tidak perlu ungkap pola dibalik pembunuhan.

“Pola 340 (pembunuhan merencanakan) dapat diambil dari dari 1 usaha memberikan dukungan rencana itu. Misalkan dikatakan polanya bukan harus ada penghinaan skesual sebagai pola. Pola dapat tidak dibutuhkan sepanjang ada sesuatu hal yang dapat disebutkan ada penyiapan,” tutur Gayus.

Gayus memberikan contoh, dalam tuduhan Ferdy Sambo disingkap mengenai bagaimana ia merayu 2 pengawalnya yaitu Bripka Ricky Rizal Wibowo dan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu untuk tembak Yosua.

Dalam rincian surat tuduhan, Bripka Ricky Rizal menampik keinginan Sambo untuk tembak Yosua dengan argumen belum siap psikis. Dan Eliezer disebutkan bersedia keinginan Sambo sampai terjadi kejadian berdarah itu.

“Apa yang hendak ditetapkan hakim untuk penyiapan berkaitan 340 itu, yakni saat kembali lagi ke Jakarta kan (Ferdy Sambo) minta dana untuk Bripka RR untuk tembak. Itu telah menunjukkan ada penyiapan. Tidak ada polanya sekalinya, tapi ia ada penyiapan dan rencana, itu dapat ditunjukkan,” sebut Gayus.

Sidang kelanjutan ke-5 tersangka dalam kasus itu akan diteruskan minggu ini. Mereka sebagai tersangka dalam kasus sangkaan pembunuhan merencanakan ialah Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada Richard Eliezer, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ru

About admin

Check Also

PDI-P Berprasangka buruk Sukarelawan Janjikan Hal Tidak Sehat ke Massa, Meminta “Ring 1” Jokowi Tidak “Asal Bapak Suka”

PDI-P Berprasangka buruk Sukarelawan Janjikan Hal Tidak Sehat ke Massa, Meminta “Ring 1” Jokowi Tidak …