Dua Hakim Agung Turut serta Suap, Pemerhati Antikorupsi: MA Digerogoti Penyakit Korupsi Mekanismeik

Dua Hakim Agung Turut serta Suap, Pemerhati Antikorupsi: MA Digerogoti Penyakit Korupsi Mekanismeik

Pemerhati Antikorupsi Zaenur Rohman memandang tindak pidana korupsi yang sudah dilakukan oleh dua hakim agung, yaitu Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan Gazalba Saleh memperlihatkan ada budaya korupsi dan jual-beli kasus dalam intern Mahkamah Agung.

Dia cemas jika perlakuan korupsi itu sebagai peristiwa gunung es, di mana kasus jual-beli kasus dan kasus suap di intern tubuh peradilan rupanya semakin banyak dibanding yang tersingkap oleh penegak hukum.

“Satu saja seorang hakim lakukan korupsi itu telah menciderai, menghancurkan, mengusik aturan dan mekanisme hukum dan keadilan, apa lagi saat ini ada dua hakim agung. Itu makin memperlihatkan jika hukum di Indonesia sampai sekarang ini masih (dapat) dijualbelikan,” tutur Zaenur ke Kompas.com, Selasa.

Dia menjelaskan, turut sertanya aktor yang disebut Aparat Sipil Negara (ASN) di lingkungan MA memperlihatkan jika praktek jual-beli kasus mengikutsertakan mekanisme MA keseluruhannya.

“Kita dapat menyaksikan jika rupanya aktornya saja ialah dari tingkat bawah, karyawan pada tingkat bawah sampai ke MA yang tempatnya tinggi sekali dan benar-benar terhormat. Maknanya itu makin memperlihatkan jika kerusakan yang terjadi di MA itu kerusakan yang paling mekanismeik, jangan selanjutnya ini cuma dinisbatkan sebagai sikap jelek dari orang per-orang, individu hakim agung,” katanya.

Dia minta beberapa pihak yang berkaitan menyaksikan jika tindak pidana korupsi yang terjadi di lingkungan MA memberikan indikasi ada mekanisme yang hancur di intern MA.

“Mekanisme mulai mungkin recruitment, mekanisme pemantauan, pembimbingan, sampai selanjutnya pada management kasus. Itu menurut saya benar-benar hancur di intern MA. Kerusakan ini memvisualisasikan jika MA sebagai lembaga alami pelapukan yang paling kronis, digerogoti oleh penyakit korupsi,” katanya.

Zaenur memandang sejauh ini beberapa program penyempurnaan di MA tidak bisa lakukan peralihan budaya korupsi yang terjadi. Menurutnya, hal itu karena beberapa program penyempurnaan yang sudah dilakukan MA tidak bisa mengganti budaya MA sebagai lembaga yang bersih.

DIberitakan awalnya, Komisi Pembasmian Korupsi (KPK) memutuskan 2 orang hakim agung sebagai terdakwa yaitu Sudrajad Dimyati dan Gazalba Saleh. Gazalba sempat jadi saksi dalam kasus korupsi yang menangkap Sudrajad.

Susul selanjutnya, Gazalba jadi terdakwa untuk kasus yang lain. Tetapi, KPK belum memberi keterangan detil masalah peranan Gazalba.

KPK baru ungkap peranan Sudrajad Dimyati yang diperhitungkan terima suap Rp 800 juta supaya keputusan kasasi seperti keinginan faksi Intidana, yaitu perusahaan dipandang tidak berhasil.

Adapun pemberi suap yakni Yosep Parera dan Eko Suparno sebagai advokat Intidana. Mereka diperhitungkan berjumpa dan berbicara dengan beberapa karyawan Kepaniteraan MA.

Dan faksi yang menyambungkan Yosep dan Eko cari hakim agung yang bisa memberi keputusan sama sesuai kemauannya yitu Desi Yustrisia, seorang karyawan negeri sipil (PNS) pada Kepeniteraan MA. Desi ajak Elly untuk turut serta dalam kesepakatan.

Selang beberapa saat, Hakim Agung Gazalba Saleh diputuskan sebagai terdakwa oleh KPK. Sampai sekarang, KPK belum memberi keterangan selanjutnya masalah peranan Gazalba

About admin

Check Also

Kasus Tambang Ilegal Dilacak saat sebelum Kasus Ferdy Sambo, Pemerhati: Aneh jika Kabareskrim Berasa Terserang

Kasus Tambang Ilegal Dilacak saat sebelum Kasus Ferdy Sambo, Pemerhati: Aneh jika Kabareskrim Berasa Terserang …