KSAD dan KSAU Punyai Kesempatan Jadi Panglima TNI, tetapi Jokowi Diprediksikan Tentukan KSAL

KSAD dan KSAU Punyai Kesempatan Jadi Panglima TNI, tetapi Jokowi Diprediksikan Tentukan KSAL

Pemerhati Militer dari Institute for Security and Taktikc Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menjelaskan, tiga kepala staff TNI punyai kesempatan jadi Panglima gantikan Jenderal Andika Perkasa yang selekasnya masuk periode pensiun.

Tetapi, dibanding dengan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman dan KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo, KSAL Laksamana Yudo Margono dipandang punyai kesempatan terbesar untuk diputuskan Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI selanjutnya.

“Menurut saya, sejauh belum pensiun, kesempatan terang besar dan kuat untuk Laksamana Yudo Margono,” kata Fahmi ke Kompas.com, Selasa.

Fahmi menjelaskan, secara etika, semua kepala staff TNI punyai kesempatan yang serupa jadi pimpinan paling tinggi Korps Militer.

Seperti bunyi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 mengenai TNI terutamanya Pasal 13 Ayat (4), Panglima cuma akan diputuskan dari kepala staff yang memegang atau bekas kepala staff yang masih juga dalam periode dinas keprajuritan.

Dalam tahapnya, presiden akan menyarankan nama calon Panglima ke DPR untuk memperoleh kesepakatan.

“Pengusulan nama seutuhnya sebagai hak prerogatif presiden dan menurut saya ada beberapa faktor atau kebutuhan nasional yang akan jadi pemikiran presiden,” tutur Fahmi.

Fahmi menyangka Presiden Jokowi akan menyarankan nama Yudo Margono atas beberapa argumen.

Pertama, selama saat pemerintah Jokowi, belum sempat ada Panglima dari lingkungan TNI Angkatan Laut. Semenjak 2014, ada dua Panglima dari Angkatan Darat dan satu diantara Angkatan Udara.

Walau tidak ada ketetapan normatif yang mewajibkan pergiliran antara ke-3 matra secara urut kacang, tetapi, kata Fahmi, tidak berarti itu tidak penting untuk diperhitungkan.

“Bisa donk kita mengharap, janganlah sampai ada yang berasa dianaktirikan atau menyusut kebanggaannya sampai mempunyai potensi memunculkan kekesalan terkubur di permukaan yang selanjutnya mempunyai potensi mendatangkan kerentanan untuk kesolidan TNI, ditambah kestabilan nasional,” katanya.

Disamping itu, lanjut Fahmi, dari dahulu Jokowi punyai harapan membuat kutub maritim Tanay Air. Bila menyimak dinamika lingkungan vital, pada masa yang akan datang Indonesia terang punyai banyak rintangan dan teror di perairan yang memerlukan misi kuat dan persiapan.

Atas alasan-alasan itu, Fahmi memandang, Yudo Margono jadi calon calon Panglima TNI paling kuat dibanding dengan Dudung Abdurachman dan Fadjar Prasetyo.

“Ini masalah kelaikan, kepatutan, dan kesetaraan kesempatan saja. Sepanjang saran nama belum keluar kantong presiden, siapa saja bisa punyai tekad dan khalayak bisa menebak,” kata Fahmi.

“Yang perlu semua usai dan disegani, kesolidan dan kesetiaan ditegakkan saat saran presiden telah disepakati DPR,” lanjut ia. Seperti dijumpai, Jenderal Andika Perkasa akan masuk periode pensiun pada Desember kedepan.

Kepala Staff Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjelaskan, Presiden Jokowi selekasnya mengirim surat presiden (Surpres) penggantian Panglima TNI. Tetapi, dia tidak bisa pastikan kapan surat itu dikirim oleh pemerintahan ke Parlemen.

Ketua DPR Puan Maharani juga telah meminta Jokowi supaya Surpres selekasnya dikirim saat sebelum periode reses DPR. Dia yakin Jokowi sudah menimbang beberapa hal saat sebelum tentukan figure alternatif Andika.

“Siapa, bagaimana, bagaimana calon yang hendak diputuskan, apa itu berkaitan dengan performa dan sebagainya, sudah pasti Presiden telah memiliki pemikiran berkaitan dengan hal tersebut,” kata Puan dijumpai di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis.

About admin

Check Also

Kapolri: Jatuhnya Helikopter Bencana Keluarga Besar Polri

Kapolri: Jatuhnya Helikopter Bencana Keluarga Besar Polri Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo pimpin langsung …