Masalah Rekening Brigadir J, PPATK Ungkapkan Didalamnya Beberapa Ratus Juta

Masalah Rekening Brigadir J, PPATK Ungkapkan Didalamnya Beberapa Ratus Juta

Faksi Pusat Laporan dan Analitis Transaksi bisnis Keuangan (PPATK) akui telah lakukan tracing atau pencarian saluran dana pada beberapa rekening yang dibikin bekas Kepala Seksi Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo atas nama pengawalnya.

Kepala PPATK Ivan Yustiavandana mengutarakan, rekening yang digenggam dan dibikin atas nama Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat berisi uang beberapa ratus juga.

“Beberapa beberapa ratus juta saja didalamnya,” tutur Ivan saat diverifikasi, Sabtu.

Dia menyikapi masalah beberapa document tersebar berkaitan pemberhentian sementara rekening BNI atas nama Nofriansyah Yosua dengan nilai capai Rp 100 triliun.

Menurut Ivan, info nilai dana itu berdasar hasil analitis yang sudah dilakukan faksinya. Info itu sudah diberikan ke Bareskrim Polri.

Awalnya, dalam persidangan Ferdy Sambo, tersingkap jika bekas Kadiv Propam itu menggunakan nama pengawalnya, yaitu Brigadir J dan Bripka Ricky Rizal untuk membikin rekening yang dipakai untuk kepentingan rumah tangga.

Dari beberapa pengawal yang menggenggam rekening untuk mengurus uang Ferdy Sambo, menurut Ivan, uang dalam rekening Brigadir J yang terbesar nominalnya. Tetapi, Ivan tidak memberitahu jumlah nominal beberapa ratus juta dalam rekening itu. “(Rekening atas nama Yosua) ini terbesar,” tutur Ivan.

Sebelumnya telah dikabarkan, saluran YouTube Irma Hutabarat sempat jadi perhatian karena memaparkan beberapa document pemberhentian sementara rekening BNI atas nama Nofriansyah Yosua. Document ini juga trending di sosial media.

Dalam document itu tercantum nama Brigadir J (Nofriansyah Yosua), tempat dan tanggal lahir, tugas, alamat, nomor rekening, nilai nominal, dan tipe transaksi bisnis.

Tetapi, yang jadi perhatian adalah nilai nominal yang capai Rp 99,99 triliun atau nyaris Rp 100 triliun yang diperhitungkan sebagai jumlah saldo tabungan punya Brigadir J.

Berkaitan ini, faksi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mengutarakan, nilai nominal sejumlah Rp 99,99 triliun itu bukan jumlah saldo pemilik rekening. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo Budiprabowo menjelaskan, nilai nominal Rp 99,99 triliun itu sebagai nilai penutupan atau pemberhentian sementara transaksi bisnis dengan nominal angka maksimal, bukan jumlah saldo punya nasabah Yosua.

“Maka dari itu, perlu kami lempengkan dan tekankan di sini jika nilai nominal dalam document informasi acara itu bukan nominal transaksi bisnis atau saldo rekening nasabah, seperti diulas dalam saluran YouTube itu,” tutur Okki saat dikontak Kompas.com, Jumat.

Dia sampaikan, nilai nominal Rp 99,99 triliun sebagai pola document informasi acara pemberhentian sementara transaksi bisnis bank yang perlu dibikin sesuai yang diisyaratkan atau dalam pola berdasar Ketentuan PPATK Nomor 18 Tahun 2017.

Kasus Brigadir J Adapun Brigadir J diperhitungkan meninggal ditembak oleh Bharada E atau Richard Eliezer atas perintah atasannya, Ferdy Sambo pada 8 Juli 2022.

Ferdy Sambo sekarang sudah dituduh lakukan pembunuhan merencanakan yang menghabiskan nyawa Brigadir Yosua. Sambo berencana pembunuhan itu bersama istrinya Putri Candrawathi Richard Eliezer, Ricky Rizal sebagai pengawalnya, dan Kuat Maruf yang disebut pengemudinya.

Kejadian pembunuhan Yosua disebutkan terjadi karena narasi sepihak istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, yang akui dilecehkan Yosua di Magelang. Selanjutnya, Ferdy Sambo geram dan berencana pembunuhan pada Yosua yang mengikutsertakan Richard, Ricky, dan Kuat.

Pada akhirnya, Brigadir J meninggal di dalam rumah dinas Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 8 Juli 2022. Atas kejadian itu, Eliezer, Sambo, Putri, Ricky, dan Kuat dituduh menyalahi Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 56 ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Kelimanya terancam pidana optimal hukuman mati, penjara sepanjang umur, atau selamanya 20 tahun. Khusus Sambo, beskal menuntut bekas Kadiv Propam itu turut serta obstruction of justice atau perintangan penyelidikan pengusutan kasus kematian Brigadir J. Dia dijaring dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 subsider Pasal 48 Ayat (1) juncto Pasal 32 Ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 Ayat (1) ke 2 juncto Pasal 55 KUHP.

About admin

Check Also

Anjuran BMKG Bersamaan Kekuatan Cuaca Berlebihan di Manado sampai 31 Januari 2022

Anjuran BMKG Bersamaan Kekuatan Cuaca Berlebihan di Manado sampai 31 Januari 2022 Badan Meteorologi Klimatologi …