Pembelaan Polri masalah Gas Air Mata di Kanjuruhan: Sebutkan Tidak Mematikan sampai Bukan Pemicu Kematian

Pembelaan Polri masalah Gas Air Mata di Kanjuruhan: Sebutkan Tidak Mematikan sampai Bukan Pemicu Kematian

Beberapa pembelaan dikatakan faksi kepolisian berkaitan pemakaian gas air mata dalam bencana Stadion Kanjuruhan, Malang.

Polisi mengklaim, pemakaian gas air mata dalam rasio tinggi tidak mematikan. Bahkan juga, menurut polisi, gas air mata bukan pemicu jatuhnya 131 korban jiwa dalam bencana itu. Akan tetapi, oleh Team Kombinasi Mandiri Pencarian Bukti (TGIPF) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), deretan pembelaan itu langsung digagalkan.

Tidak mematikan

Menurut polisi, gas air mata tidak mematikan sekalinya dipakai dalam rasio tinggi. Polisi mengklaim, ini mengarah pada info beberapa pakar, seperti pakar kimia dan persenjataan sekalian dosen di Kampus Indonesia dan Kampus Pertahanan, Mas Ayu Elita Hafizah, dan Guru Besar Kampus Udayana sekalian pakar sektor Oksiologi atau Toksin Made Agus Gelgel Wirasuta. “Beliau (Made Agus Gelgel) mengatakan jika terhitung dari doktor Mas Ayu Elita jika gas air mata atau cs ini ya dalam rasio tinggi juga tidak mematikan,” kata Kepala Seksi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta

Dedi menerangkan, ada 3 tipe gas air mata yang dipakai saat bencana Kanjuruhan. Pertama, gas air mata asap putih atau smoke.

Selanjutnya, gas air mata yang memiliki sifat sedang yang dipakai untuk mengurai cluster dari jumlahnya kecil. Lantas, gas air mata dalam tabung merah untuk mengurai massa dengan jumlah yang lumayan besar. Dedi mengatakan, tidak ada racun atau toksin dalam gas air mata yang dapat menyebabkan seorang wafat. Menurut dia, gas air mata bisa mengakibatkan mata teriritasi seperti saat terserang sabun. Tetapi, itu cuma terjadi sesaat dan tidak menyebabkan kerusakan yang fatal. “Semua jenjang ini saya satu kali lagi saya bukan ahli (pakar), saya cuma dapat mencuplik beberapa ahli sampaikan ya cs atau gas air mata dalam jenjangnya paling tinggi juga tidak mematikan,” katanya.

Bukan pemicu kematian

Dedi mengklaim, berdasar keterangan beberapa pakar dan dokter specialist, gas air mata bukan jadi pemicu kematian beberapa korban di Stadion Kanjuruhan. Menurut dia, pemicu khusus jatuhnya beberapa ratus korban ialah karena berdesak-desakan dan kekurangan oksigen.

“Dari keterangan beberapa pakar dan dokter specialist yang tangani beberapa korban, baik korban yang wafat atau korban yang cedera, dari dokter specialist penyakita dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan specialist penyakit mata, tidak satu juga yang mengatakan jika pemicu kematian ialah gas air mata tetapi pemicu kematian ialah kekurangan oksigen,” kata Dedi. Dedi menjelaskan, waktu itu di stadion beberapa orang berdesakan akan keluar. Berikut yang mengakibatkan beberapa orang kekurangan oksigen sampai pada akhirnya meninggal. “Terjadi berdesakan terinjak-injak, bertumpukanan menyebabkan kekurangan oksigen di pada pintu 13, pintu 11, pintu 14, dan pintu 3. Ini yang menjadi korbannya lumayan banyak,” katanya.

Gas air mata lewat waktu

Polisi juga mengaku jika ada beberapa gas air mata lewat waktu yang ditembakkan dalam bencana itu. Tetapi, polisi menyebutkan, tidak seluruhnya gas air mata pada keadaan lewat waktu. “Ya beberapa ada yang ditemukan (lewat waktu) ya yang tahun 2021, ada banyak ya,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan, faksinya belum mengetahui detil jumlah gas air mata yang lewat waktu. Hal itu sekarang ini masih dipelajari oleh laboratorium forensik. Ia berkelit, gas air mata yang lewat waktu sedianya tidak demikian efisien. Karena, zat kimia dalam gas itu sudah turun kandungannya. “Saat tidak diledakkan di atas maka muncul partikel lebih kecil kembali dibanding bedak yang dihirup, selanjutnya terkena mata menyebabkan perih . Maka jika sudah expired (lewat waktu) malah kandungannya menyusut, selanjutnya kekuatannya akan turun,” claim Dedi.

Digagalkan Komnas HAM

Info polisi itu digagalkan oleh Komnas HAM. Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menjelaskan, shooting gas air mata jadi penyebab khusus kekacauan di Stadion Kanjuruhan. Penemuan ini didapatkan sesudah Komnas HAM lakukan penyidikan dan pengecekan langsung ke lokasi dan mengecek saksi yang selamat dari kejadian mematikan itu. “Dinamika di atas lapangan itu penyebab khusus ialah memang gas air mata yang memunculkan kecemasan,” kata Anam dalam penjelasannya

Anam menjelaskan, shooting gas air mata itu membuat kecemasan di keramaian pemirsa yang ada di tribune. Mengakibatkan, pemirsa berebutan untuk keluar stadion lewat pintu keluar yang sempit. “Berdesakan dengan mata yang sakit, dada yang sesak, sulit napas dan lain-lain,” tutur ia. Komnas HAM akui sudah kantongi info masalah pemakaian gas air mata yang lewat waktu. Hal itu, sekarang ini akan terus dipelajari.

Dibantah TGIPF

Team Kombinasi Mandiri Pencarian Bukti (TGIPF) bencana Kanjuruhan menentang pengakuan Polri masalah gas air mata yang tidak mematikan. Anggota TGIPF Rhenald Kasali menjelaskan, menembakkan gas air mata oleh personil Polri dalam bencana itu memiliki sifat mematikan. Walau sebenarnya, kata Rhenald, semestinya polisi hanya memakai gas air mata yang kemampuannya untuk menahan agresivitas massa. Tetapi, yang terjadi dalam kejadian Kanjuruhan tidak begitu. “Jadi (gas air mata) bukan senjata untuk mematikan, tetapi senjata untuk melumpuhkan agar tidak memunculkan agresivitas. Yang terjadi (di Kanjuruhan) ialah malah mematikan . Maka ini pasti harus diperbarui,” kata Rhenald saat dijumpai di Kantor Kemenko Polhukam

Rhenald menjelaskan, korban yang terserang gas air mata awalannya memanglah tidak rasakan apapun. Tetapi, satu hari selanjutnya, mata mereka menghitam dan memeras. Berdasar info dokter, butuh waktu lebih kurang sebulan untuk korban untuk mengembalikan mata mereka. Menurut Rhenald, polisi sudah lakukan penyelewengan dan pelanggaran berkaitan ini, apa lagi beberapa gas air mata rupanya lewat waktu. Ia mengatakan, status kepolisian di Indonesia bukan polisi yang berbasiskan militer, tapi kepolisian sipil. Oleh karena itu, semua performa Polri semestinya berdasarkan pada HAM. “Karena gas air mata itu, ingat ini ialah jika kepolisian itu ialah saat ini ini bukanlah military police, bukan polisi yang berbasiskan militer, tetapi ini ialah civilian police. Nach, karena itu polisi itu ditangankanani oleh kitab HAM,” kata Rhenald. Selanjutnya, TGIPF sudah bawa beberapa longsongan gas air mata yang lewat waktu untuk dicheck di laboratorium. “Salah satunya keraguan kami ialah kedaluwarsa dan itu telah dibawa ke lab semua dicheck,” ucapnya.

About admin

Check Also

PDI-P Berprasangka buruk Sukarelawan Janjikan Hal Tidak Sehat ke Massa, Meminta “Ring 1” Jokowi Tidak “Asal Bapak Suka”

PDI-P Berprasangka buruk Sukarelawan Janjikan Hal Tidak Sehat ke Massa, Meminta “Ring 1” Jokowi Tidak …